Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2011

agraria

0 komentar
NASIONALISASI PERUSAHAAN SWASTA
Tahun 1950-an merupakan tahun kepahitan yang dialami oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Kenapa tidak, begitu banyaknya aset ekonomi yang mereka miliki di Indonesia kemudian diambil –alih oleh pemerintah Republik Indonesia lewat kebijakan nasionalisasinya. Sesuai dengan undang-undang nomor 86 tahun 1958, tentang nasionalisasi perusahaan milik Belanda, dimana tindakan yang diambil oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap perusahaan milik Belanda yang berada di dalam wilayah Republik Indonesia tersebut, tidak terlepas dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat adalah sesuai dengan kebijaksanaan pembatalan KMB (Konfrensi Meja Bundar).
Pada masa 1886, ada tiga buah lembaga penelitian yang didirikan oleh pabrik-pabrik gula di Jawa, yaitu Proefstation voor suikerriet in West Java di Cirebon melalui Gouverment Besluit No. 2 tangal 23 juli 1886, het Proefstation Midden Java di Semarang melalui Gouverment Besluit No 217 tangga 22 November 1886, serta Het Proefstation Oost Java Pasuruan melalui Gouverment Besluit No 31 tanggal 8 Juli 1887. Setelah dilakukan penyederhanaan dan penggabungan ketiga institusi tersebut disatukan pada tahun 1921, dan pada tahun 1943 dilanjutkan oleh Togyo Shikensho di bawah pengawasan administrasi militer Jepang. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, selama tahun 1847-1957, institusi penelitian gula tersebut dikelola oleh pabrik-pabrik gula Indonesia. Setelah terjadi nasionalisasi perkebunan milik bangsa Belanda, institusi ini sejak 10 Desember 1957 dikelola oleh Badan Koordinasi Perkumpulan dan Organisasi Perkebunan dan diberi nama Balai Penyelidikan Perusahaan Perkebunan Gula (BP3G).
Pada tahun 1901, Kebun Raya Bogor melakukan penelitian teh, kopi, tembakau, dan karet dan pada tahun yang sama pengusaha perkebunan kakao di Jawa Tengah mendirikan Proefstation voor Cocoa di Salatiga yang diperluas cakupan komoditinya menjadi Algemeen Proefstation voor de Bergcultures, serta pengusaha perkebunan Sukabumi mendirikan Proefstation voor Thee melalui Gouverment Besluit No 16 tanggal 13 April 1902. Karena alasan jarak antara lokasi kebun dengan lembaga penelitiannnya, maka Algement Proefstation voor de Bergcultures dan Proefstation voor Thee dibubarkan, tetapi dibentuk empat institusi penelitian yang menggantikanya, yaitu : Proefstation voor Rubber di Bogor, Algemeen Proefstation voor Thee di Bogor, dan Malang Proefstation di Malang dan Besoekisch Proefstation di Jember. Pada tanggal 31 mei 1911, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Proefstation voor Kina di Pengalengan, melalui Gouverment Besluit No. 35.
Lembaga Penelitian teh tersebut dibiayai oleh Vereniging Algemeen Proefstation voor Thee. Setelah terjadi krisis pembiayaan pada tahun 1925, maka lahirlah Algemeen Ladbouw Syndicaat (ALS) yang membiayai instituysi penelitian perkebunan di jawa tersebut, kecuali penelitian gula. Ternyata cara ini tak dapat mengatasi masalah, sehingga diberlakukan Crisis Cultuur Ordonanties 1933 (stbl. 1933 Nos 202-209) yang antara lain menetapkan badan pengelola khusus untuk ketiga balai penelitian tersebut melalui Gouvermeet Besluit N0. 2 tanggal 4 mei 1933. Badan pengelola disebut Centrale Vereniging tot Beheer van Proefstatiion voor der Overjarige Cultures in Nederlandsxh – Indie (CPV), yang memungut iuran berdasarkan hukum publik (wajib), untuk memenuhi biaya operasional balai penelitian tersebut. Selanjutnya, Proefstation West Java diubah menjadi CPV Bogor, Proefstation Midden Oost Java menjadi CPV Malang, dan Besoekisch Proefstation menjadi CPV Jember. Pada tahun 1952, ketiga balai ini digabung menjadi satu, yaitu Proefstation der CPV dan kantor pusatnya berkedudukan di Bogor.
Di Sumatera, pada tahun 1916 didirikan pula Algemeen Proefstation der AVROS (APA) oleh perusahaan perkebunan yang tergabung dalam Algemeen Vereniging Rubber Planters Ooskust van Sumatera (AVROS). Pada tahun 1941, AVROS bersama Bond van Eigenaren van Netherland-Indische Rubber Ondernemingen membentuk pula badan otonomi yang bertugas mengembangkan penelitian dan pemakaian karet alam, yang dinamakan Netherlands Indische Instituut voor Rubber Onderzoek Stichting (NIRO Stichting) yang memvawahi satu balai, yaitu INIRO. 
0 komentar
IBNU KHALDUN
PENGANTAR
            Dalam sejarah  perkembangan Islam pasca Muhammad, agama ini berhasil mengepakkan sayap hingga kekuasaannya membentang sampai ke benua Eropa. Bak jamur di musim hujan, pada era keemasaan Islam secara berangsur-angsur muncul cendekiawan-cendekiawan bertalenta yang turut memberikan sumbangsih terhadap peradaban. Salah satu diantaranya dari sebagian banyak “orang jenius” tersebut adalah Ibn Khaldun yang hidup ketika Islam mengalami kemunduran sekitar abad 14-15 M. Pemikirannya yang diabadikan dalam kitab Al-Ibar telah memberikan pandangan betapa hebatnya cendekiawan Timur saat itu, tak kalah dengan para tokoh dari Barat. Khaldun dalam berbagai karyanya menguraikan tentang berbagai bidang wawasan seperti: sejarah, filsafat, sosiologi, sastra dan lain-lain.
            Ibn Khaldun adalah seorang pembaharu khususnya dalam bidang sejarah. Para sejarawan sebelumnya selalu mencampur-adukkan antara cerita fiksi dan kisah nyata. Mereka mendasarkan antara cerita fiksi dan mitos. Dalam hal ini Khaldun telah memberikan batasan tentang sejarah. Ia berkata “Dalam dzahirnya, sejarah hanyalah membawa kabar tentang hari-hari yang berlalu dan berita tentang negara-negara. Sementara di kedalamannya, sejarah adalah analisa dan mencari alasan yantg mendasari kejadian alam dan prinsip-prinsip dasarnya serta mencari tahu tentang bagaimana suatu peritiwa terjadi dan apa penyebabnya.” [1]
           
RIWAYAT HIDUP
            Tentang riwayat hidup Ibn Khaldun, banyak sekali buku atau artikel yang membahasnya secara lengkap. Hal ini dikarenakan Khaldun sendiri  menuliskan kisahnya perjalanannya dalam al-Tarif. Semasa hidupnya dapat diklasifikasikan dalam empat tahapan dimana yang masing-masingnya mempunyai maksud dan tujuan sendiri-sendiri.
  1. Masa kecil dan perkembangannya.
Ibn Khaldun lahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 tepatnya dijalan Turbah Bay. Selain menghafal Al-Qur’an dan Tajwidnya, semasa kecilnya  ia juga mempelajari berbagai cabang ilmu seperti: ilmu syariat (antara lain: tafsir hadist, ushul, tahuid dan fikih mazab imam Maliki), ilmu bahasa seperti: (bahasa nahwu, sharaf, balaghah dan kesustraan) ilmu fisika dan matematika. Masa ini yang sangat menguntungkan Ibn Khaldun karena pada saat itu Tunisia menjadi pusat berkumpulnya sastrawan di negara Maghribi serta tempat tujuan utama para ulama yang hijrah dari Andalus. Kemungkinan karena banyaknya sang guru dan besarnya peluang untuk menimba ilmu inilah yang kemudian menjadikannya seorang yang pandai. Ini dibuktikan dalam karyanya, Khaldun mencatat nama-nama gurunya dan riwayat hidupnya dan karyanya, diantaranya: Muhammad bin Sa’ad, Muhammad bin Burral al- Anshari, Muhammad bin al-Arabi al-Husyari, Muhammad bin Bahr, Ahmad bin al-Qashshar dan lain-lain. Selain itu mencatat buku-buku yang ia pelajari seperti;  al-Lamiyah fi l-Qiraat, ar Ra’iyah fi rasmi i- Mushhaf, al- Mualaqat, kitabul hammasah li I-A’lam,  antalogi imam Maliki (shahih muslim dan maoutha) dan lain-lain.
Ketika Ibn Khaldun berumur delapan belas tahun, terjadi dua peristiwa penting yang meyebabkannya berhenti belajar dan kedua-duanya memberikan bekas yang delam di perjalanan hidupnya. Tahun 794 H penyakit pes melanda sebagian besar belahan dunia barat dan timur, tempat tinggalnya pun tak luput dari ganasnya penyakit ini. Setiap hari puluhan hingga ratusan orang mati terserang penyakit tersebut[2]. Yang paling menyakitkan adalah penyakit ini juga menyerang kedua orang tua dan guru-gurunya. Khaldun sendiri selamat karena  selama berbulan-bulan ketika wabah menyerang ia tinggal di Kota Marriyah.
Dalam karyanya At-tarif: 20 Khaldun berkata: “ ketika aku pada usia meningkat, masaku berkembang mereguk ilmu  pengetahuan, ketika selalu tidak puas dengan ilmu yang telah diperoleh dengan cara berpindah dari suatu sorongan ke sorongan yang lain, tiba-tiba penyakit pes menyerang semua orang, seluruh syekh, dan kedua orang tua diriku pun -semoga Allah merahmati mereka- wafat oleh serangan penyakit tersebut”.      
Akibat peristiwa tragis tersebut membuat Khaldun mulai berpikir ke depan. Ia merasa sudah tak memungkinkan untuk belajar dan menimba ilmu. Secara tiba-tiba garis kehidupannya berubah, ia mulai berminat pada pekerjaan –pekerjaan umum[3].
  1. Terjun ke dunia politik, pemerintahan dan berkeluarga
Tahun 751 H atau 1350 M, Ibn Khaldun bekerja pada Sultan Ibn Tafrakin dengan Jabatan Kitabah al-Allamah, yaitu penulis kata-kata Alhamdullah dan Asy Syukru Lillah dengan pena yang keras, diantara basmalah mendahului tulisan-tulisan berupa surat dan instruksi. Tahun 753 H, Tunisia diserang oleh Amir Qusanthianah Abu Zaid  yang ingin merebut kembali sisa-sisa peninggalan ayahnya dari tangan imperialis Tafakrin. Serangan itu berhasil sehingga menyebabkan Khaldun harus menyelamatkan diri. Setelah berkeliling ke beberapa negeri, akhirnya  ia dapat tempat tinggal di Baskarah (sebuah kota di aljazair, maghribi tengah), disini ia kemudian menikah pada tahun 754 H.
Setelah berkeluarga Ibn Khaldun melakukan perjalanan ke daerah jazirah Andalusia sebanyak 2 kali tahun 764-766 H. Setelah hampir dua setengah tahun menetap  di sana, Khaldun beserta keluarganya kembali ke Maghribi. Di tempat tinggal lamanya ini, dibawah kekuasaan  Amir Bijayah ia meniti karir dalam dunia politik praktis menduduki jabatan hijabah akan tetapi kenyamanan Ibn Khaldun tak bertahan lama karena ada kerusuhan besar antara Amir Bijayah dengan sepupunya Sultan Abdul Abbas pada tahun 764 H yang berakhir dengan kemenangan Abbas. Selanjutnya, tahun 776 H, Khaldun berangkat untuk kedua kalinya ke Andalusia.
  1. Masa mengarang
Muqaddimah (pembukaan) yang merupakan karya paling populer dari sosok Ibn Khaldun yang diselesaikannya selama lima bulan pada tahun 799H. Boleh dikata sangatlah menakjubkan, karena karya itu (meskipun hanya pengantar) merupakan karya yang besar dan berkualitas. Bahkan paling populer diantara karya-karya khaldun lainnya.
Revisi dan proses melengkapi kitab dilakukan Khaldun saat ia berada di Tunisia, dan kemudian menghadiahkan kitab Muqaddimahnya kepada Sultan Abdul Abbad. Setelah itu selama delapan tahun kehidupan Khaldun difokuskan dalam kepengarangan dengan inspirasi yang kritis dan analisis tajam. Pengalaman semasa hidupnya dimana banyak terjadi peristiwa dan pergolakan menjadikan modal yang besar terhadap keberhasilannya.
  1. Masa terakhir: mengajar dan meninggal
Tahun 1328 M, Ibn Khaldun hijrah ke Mesir dengan tujuan ingin menunaikan ibadah Haji. Kemudian ia mengajar di Universitas Al-Azhar dengan mengadakan kuliah halaqah dengan dihadiri oleh siapapun (umum). Disana ia memberikan materi tentang Hadish, Fikih Maliki serta teori-teori  kemasyarakatan yang diambilnya dari Muqaddimah.
Tahun 786 Khaldun menjadi dosen fikih Maliki di Madrasah Qamniah. Kuliah pertamanya dihadiri para ulama, pembesar kerajaan dan para amir. Setahun kemudian Khaldun mendapat kepercayaan penuh dari sultan Mesir  untuk menduduki posisi Ketua Pengadilan Kerajaan Mesir. Namun sepertinya setiap kali kesuksesannya selalu di barengi dengan kedukaan. Tak lama setelah ia menjabat menjadi Ketua Pengadilan, istri beserta anaknya dari Magribi menyusulnya ke Mesir. Namun, dalam perjalanan tersebut mereka meninggal akibat angin badai.
Tahun 803, Temerlane (Raja Mongol) telah bergerak dari Timur dengan tentaranya telah merebut Syam (Syria), dan menguasai Kota Aleppo. Kemudian setelah sampai mengadakan pertemuan dengan Khaldun dengan maksud diplomasi dan saling bertukar pikiran. Tahun 1406, Ibn Khaldun tiba-tiba wafat dalam usia tujuh puluh enam tahun. Tempat pemakamannya hingga sekarang masih menjadi kontroversi para ilmuwan dan sejarawan.

KARYA DAN PEMIKIRANNYA
            Meskipun Ibn Khaldun hidup pada masa dimana peradaban Islam mulai mengalami kehancuran, namun kenyataannya ia mampu menunjukkan kualitas dan kuantitas dirinya dengan melahirkan pemikiran besar melalui karya-karyanya. Pemikiran –pemikiran yang dituangkan dalam karyanya  hampir seluruhnya bersifat orisinil dan kepeloporan. Karya-karya Ibn Khaldun antara lain:
  1. Kitab al-‘Ibar wa Diwan al-Mubtada’wa al Khabar fi Ayyam al-Arab wa al-‘ Ajam wa al-Barbar wa man ‘Asharahum min Dzawi al-Sulthan al-Akbar.
Kitab ini oleh Ibn Khaldun disusun dengan sistematika sebagai berikut:
  1. Pendahuluan ( al-Muqaddimah) yang membahas tentang manfaat historiografi, bentuk-bentuk historiografi dan beberapa kesalahan para sejarawan.
  2. Buku pertama yang berisi tentang peradaban dan berbagai karakteristiknya, seperti kekuasaan, pemerintahan, mata pencaharian, penghidupan, keahlian dan ilmu pengetahuan.
  3. Buku kedua yang mencakup uraian tentang sejarah bangsa arab dan bangsa-bangsa yang sejaman dengannya, seperti bangsa Natbi, Suryani, Persia, Yunani, Romawi, Turki, dan Franka.
  4. Buku  ketiga menguraikan sejarah bangsa Berber dan Zanatah, khusunya kerajan dan negara-negara di Afrika Utara ( Magribi)
Karya inilah yang sering dijadikan kajian hingga kini, karena isinya tidak hanya menghubungkan antar sejarah dan filsafat saja, tetapi juga ilmu lain yang sekarang disebut Ilmu Sosiologi.
  1. Muqaddimah
Seperti telah disebutkan diatas bahwa Muqaddimah termasuk dalam sitematika kitab al-Ibar.  Namun perlu diketahui bahwa sebenarnya di dalam sitematika tersebut masih terbagi beberapa bab dan jilid pertama kitab al-Ibar inilah yang kemudian terkenal dengan al- Muqaddimah.
Muqadimah adalah karya yang paling terpopuler diantara semua karya Ibn Khaldun. Bisa juga dikatakan yang terbesar diantara yang terbesar karena al-Ibar sendiri juga merupakan karya terbesar Ibn Khaldun. Bahkan kadang orang salah mempersepsikan Muqaddimah. Banyak yang beranggapaan bahwa Muqqadimah tersebut adalah sama dengan al-Ibar, padahal sebenarnya hanya pembukaannya saja. Tak bisa disangkal memang Muqaddimah lebih terkenal dibanding al-Ibar sendiri. Kemungkinan dikarenakan karena isinya menyangkut tentang masalah-masalah sosial yang dianggap oleh para ahli sebagai embrio dari ilmu sosiologi.
            Al-Muqaddimah yang merupakan maqnum opusnya Ibn Khaldun ditulis dalam enam bab yang diawali dengan pendahuluan. Bab kedua membahas tentang peradaban Badui (al-badawi) dengan berbagai kondisinya, bab ketiga tentang dinasti, khilafah dan kerajaan serta yang berhubungan dengannya, bab keempat tentang peradaban kota (al- hadhari dengan berbagai macam kondisinya), bab kelima  tentang berbagai aspek  mata pencaharian dan bab keenam tentang ilmu pengetahuan dan metode perolehannya.
            Bila dicermati keenam bab tersebut sangat menjurus pada aspek tentang masyarakat. Dan ilmu sosiologi (sekarang ini) adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat atau gejalanya. Karena kekreatifan Ibn Khaldun yang melihat peristiwa disertai kajian obyek sosial maka para intelektual pun sepakat bahwa Muqaddimah merupakan buku pertama yang berbau dan menggunakan metode-metode sosiologi. Ibn- Khaldun sendiri akhirnya juga mendapat gelar bapak sosiologi.

  1. Al-Tarifi Ibn Khaldun wa Rihlatuh Garban  wa Syarqan
Karya ini lebih pada sebuah otobiografi Ibn Khaldun. Karena karya inilah kehidupan Ibn Khaldun dapat diserap oleh khalayak ramai secara lengkap. Karena  Khaldun sendirilah yang menuliskan riwayat hidup dan semua peristiwa peristiwa yang pernah dialaminya.
            Pada awalnya al-Tarif ditulis Ibn Khaldun sampai tahun 1395, sebagai lampiran  kitab al-Ibar, tetapi kemudian disempurnakan isinya dengan  berbagai peristiwa yang dialami beliau sampai 1405 M, satu tahun sebelum kematiannya.   Dari penjelasan diatas dapat dilihat betapa teliti dan cermatya Ibn Khaldun dalam mengkaji sebuah peristiwa terutama kehidupannya sendiri sehinga apa yang ditulisnya sangatlah berguna bagi generasi selanjutnya. Dalam karya tersebut, Khaldun juga meriwayatkan kehidupan orang-orang penting yang erat hubungannya dengan riwayat hidupnya.
  1. Karya-karya lain    
Bagi para ilmuwan dunia sudah hal biasa bilamana dari sekian banyak karyanya yang terangkat hanya beberapa saja. Begitu juga dengan Ibn Khaldun, akan tetapi bukan berarti karya-karya lain itu tidak berguna. Ibarat disebuah kelas diskusi, ada banyak orang yang berkomentar tapi yang paling menonjol mungkin cuma satu atau dua orang saja.
Karya Ibn Khaldun yang saat ini masih sempat dilestarikan yaitu sebuah ikhtisar atas karya Fakhruddin al Razi yang berjudul Al- Muhashal membahas tentang teologi klasik. Karya yang ditulis di Tunis ini kemudian oleh khaldun diberi judul Lubab al- Muhashshal fi al-Din. Karya lainya adalah Syifa al- Sail fi tahdzib al- Masa’il yang ditulis di Fezh berisi tentang uraian mistisime konvensional. Ibnu khaldun merupakan seorang tokoh pemikir islam dan  pemikirannya dapat dikatakan sangat modern pada masanya itu. Yang jelas beliau mendasarkan pemikiranya yang dituangkan kedalam karya-karyanya itu pada Alquran. Khaldun dikenal sebagai pemikir yang menggunakan doktrin sufi atau dengan kata lain pemikiranya cenderung kearah sufistik yang dibuktikan dengan jabatan yang Khaldun emban sebagai hakim agung Mahzab Maliki di Mesir selama beberapa kali. Pemikiran dan analisanya banyak memberikan warna dan pengaruh pada dunia ilmu sosial,politik, sejarah, filosofi, dan pendidikan. Sebagai pemikir islam Khaldun memiliki pemikiran yang luas, rasional dan obyektif. Melalui pembahasan yang ada dalam muqodimah menunjukkan bahwa Khaldun telah meletakkan dasar-dasar teoritis filsafat sejarah, yang sampai saat ini sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan masih kita rasakan.   

KESIMPULAN
            Ibn Khaldun memang pantas dikatakan sebagai salah satu tokoh yang paling spektakuler di masa panjang sejarah Islam. Hal ini sangatlah jelas karena pemikirannya yang tak terbatas pada satu konsep saja. Meskipun hari-hari dijalaninya dengan penuh tantangan.
Ibn Kholdun dengan karya-karyanya mampu untuk mencakup sebagian besar ilmu-ilmu sosial yang ada di dunia ini, dan dalam karya-karyanya itu Ibn Kholdun juga tidak melepaskan sandaran ilmunya pada aspek agama. Dari karya-karyanya seorang Ibn Kholdun dapat di ketahiu dia adalah seorang alim yang taat sekali dengan agamanya.
Dari karya-karya kholdun bila ditilik lebih dalam mengandung makna bahwa kehidupan manusia dengan segala aktifitasnya adalah untuk tujuan akhirat, dan bukan hanya untuk dunia itu sendiri. Kehidupan Ibn Kholdun juga sebagian besar didedikasikan untuk ilmu pengetahuan, Ibn Kholdun mengaplikasikan ilmu-ilmu yang dimiliki dalam kehidupannya, seperti dalam politik praktis maupun dunia pendidikan.  





SUMBER :
Arsyad, M. Natsir. 1990. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah. Bandung : Penerbit Mizan.
Asy-Syarafa, Ismai. 2002. Ensiklopedi Filsafat. Jakarta: Khalifa.
Zainudin, A. Rahman. 1992. Kekuasaan dan Negara, pemikiran politik Ibnu Khaldun. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
 


[1] Ismail Asy-Syarafa, 2002, Ensiklopedi Filsafat. Jakarta: Khalifa, hlm. 7.
[2] Zainudin, A. Rahman. 1992. Kekuasaan dan Negara, pemikiran politik Ibnu Khaldun. Jakarta PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 46.

[3] Ibid. Hal 47.

PERJANJIAN RENVILLE

0 komentar
 PERJANJIAN RENVILLE

Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral, USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia.
Pada tanggal 25 agustus 1947 dewan keamanan menerima sebuah keputusanyang berisi:
a)              Para konsul asing dijakarta supaya membuat laporan mengenai keadaan terakhir di Indonesia.
b)             Membentuk sebuah komisi yang terdiri dar tiga Negara.
c)              Pembukaan resmi perundingan antara Indonesia-belanda diadakan pada tanggal 6 desember 1947 digeladak kapal perang amerika renville.[1]
Tugas pokok KTN adalah mencari penyelesaian damai terhadap masalah perselisihan antara Indonesia dan belanda. Amerika serikat mengusulkan tempat perundingan di kapal AS bernama renville yang sedang berlabuh di tanjung priok.[2]
Delegasi
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Amir Syarifuddin Harahap. Delegasi Kerajaan Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL R. Abdul Kadir Wijoyoatmojo.
Gencatan senjata
Pemerintah RI dan Belanda sebelumnya pada 17 Agustus 1947 sepakat untuk melakukan gencatan senjata hingga ditandatanganinya Persetujuan Renville, tapi pertempuran terus terjadi antara tentara Belanda dengan berbagai laskar-laskar yang tidak termasuk TNI, dan sesekali unit pasukan TNI juga terlibat baku tembak dengan tentara Belanda, seperti yang terjadi antara Karawang dan Bekasi.

Kesepakatan
Kesepakatan yang diambil dari Perjanjian Renville adalah sebagai berikut :
1.              Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai bagian wilayah Republik Indonesia
2.              Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda
3.              TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur ke daerah Indonesia di Yogyakarta
Persetujuan renville mengandung pula pokok-pokok berikut yang pada asasnya disetujui oleh kedua pihak.
a)              Melarang sabotase, intimidasi, dan balas dendam serta perbuatan-perbuatan yang sedemikian.
b)             Mencegah pidato-pidato radio atau propaganda apapun juga yang bermaksud menghasut atau menyesatkan pikiran tentara atau penduduk.
c)              Mengadakan pidato-pidato radio serta mengambil tindakan untuk member penerangan pada penduduk tentang keadaan yang genting dan perlunya tunduk pada yang dimaksud sub a dan b.
d)             Kesempatan sepenuhnya untuk menyelidiki harus diberi pada pembantu militer atau sipil yang membantu KTN.
e)              Menghentikan penerbitan komunike gerakan harian atau lain-lain  keterangan tentang tindakan militer.
f)              Menerima asas untuk melepaskan tawanan-tawanan dari masing-masing pihak dan memulai perundingan dengan maksud melaksanakannya dengan cepat dan tepat.[3]

Pasca perjanjian
Sebagai hasil Persetujuan Renville, pihak Republik harus mengosongkan enclave (kantong-kantong) yang dikuasai TNI, dan pada bulan Februari 1948, Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah.
Tidak semua pejuang Republik yang tergabung dalam berbagai laskar, seperti Barisan Bambu Runcing dan Laskar Hizbullah/Sabillilah di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, mematuhi hasil Persetujuan Renville tersebut. Mereka terus melakukan perlawanan bersenjata terhadap tentara Belanda. Setelah Soekarno dan Hatta ditangkap di Yogyakarta, S.M. Kartosuwiryo, yang menolak jabatan Menteri Muda Pertahanan dalam Kabinet Amir Syarifuddin, Menganggap Negara Indonesia telah Kalah dan Bubar, kemudian ia mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Hingga pada 7 Agustus 1949, di wilayah yang masih dikuasai Belanda waktu itu, Kartosuwiryo menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).
Hasil perundingan renville mengalami kemacetan karena tidak adanya kesepakatan kedua Negara, akhirnya menjelang tengah malam tanggal 18 desember 1948 wali tinggi mahkota belanda Dr Beel mengumumkan bahwa belanda tidak terikat lagi pada perundingan renville.[4]
Akibat persetujuan renville adalah:
1.              Daerah RI yagn dengan persetujuan linggarjati terbatas pada Sumatra, jawa dan Madura lebih diperkecil lagi.
2.              TNI yang masih ada di jawa barat dipindahkan ke daerah RI di jawa tengah.
3.              Pertentangan politik dalam negeri makin meruncing.[5]


Keadaan politik
1.              Sesudah perjanjian genjatan senjata dan dasar politik ditandatangani, jelas lah bahwa hasilnya akan tercapai jika kedudukan pemerintahan yang melanjutkan pejelasan perjanjianitu kuat.
2.              Tuntutan pergantian cabinet.
3.              Tuntutan PNI ini mengheankan karena:
-                 Tidak ada alas an politik
-                 PNI adalah mode-formateur
-                 PNI tetap turut bertanggungjawab
-                 Fraksi PNi telah memajukan mosi kepercayaan pada pemerintah.[6]



[1] Julianto S.A. 1982. Sejarah perjuangan pergerakan kebangsaan Indonesia.jakarta.erlangga. hal 56
[2] Sejarah untuk SMP IX.erlangga,Jakarta.matroji.
[3] Renville principles: pengumuman persetujuan2. Jogjakarta.kantor berita ‘antara’ (1948) hal 5
[4] Ibid.halaman
[5] Julianto S.A. 1982. Sejarah perjuangan pergerakan kebangsaan Indonesia.jakarta.erlangga. hal 57.
[6] Ibid. halaman 35

pendidikan di Indonesia

0 komentar
Pendidikan Sebelum Tahun 1965
Kurikulum pada hakekatnya adalah alat pendidikan yang disusun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, kurikulum akan searah dengan tujuan pendidikan, dan tujuan pendidikan searah dengan perkembangan tuntutan dan kebutuhan masyarakat (Sanjaya, 2007). Jika kita bicara dengan arah pembangunan masyarakat, maka disini sudah melibatkan sisi politis pendidikan. Karena kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan politis tertentu, maka sangat wajar jika ada istilah ganti menteri ganti kurikulum, ganti rezim ganti kurikulum, bahkan Bush Jr. mengucurkan dana miliyaran dollar untuk membujuk pesantrren-pesantren di Indonesia agar tidak berpresepsi buruk terhadap orang Kafir dan mengkerdilkan Jihad, lewat perubahan kurikulum pesantren atau yang disebut moderenisasi kurikulum pesantren.
Melalui paparan berikut ini, kita akan membuktikan bahwa pengembangan kurikulum sebagai alat pendidikan sangat dipengaruhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat dan rezim yang berkuasa. Dan melalui makalah ini pula kami pemakalah yakin bahwa keadaan kurikulum sudah dapat mewakili perkembangan pendidikan yang ada pada saat itu.
Tahun 1945 sampai 1965 adalah periode perjuang melepaskan diri secara penuh dari jerat kolonial. Terdapat masa di mana kompromi yang dilakukan oleh para pimpinan republik menimbulkan ketidakpuasan pada golongan radikal (1945-1951). Kemudian berubah, ke suatu garis anti imperialisme yang lebih tegas (1952-1965). Masa sebelum 1951 adalah masa pergolakan fisik, yang memberikan pelajaran-pelajaran penting kepada rakyat.  Menjelang 1965, polarisasi politik melahirkan dua kubu dalam pergerakan. Kubu pertama berada di sisi kiri, dengan garis politik anti imperialisme, sedangkan kubu yang lain berada di sisi kanan, dengan garis politik pro imperialisme. terutama untuk kalangan pemudanya, dikarenakan mimpi tentang demokrasi dan liberalisasi. Kedua kubu gerakan ini menjalankan aktivitas pendidikan pada rakyat. Namun polarisasi politik tersebut semakin menunjukkan pembesaran pada kubu kiri, sedang dukungan massa terhadap kubu kanan semakin berkurang. Dalam pemilu 1955 Partai Komunis Indonesia (sebagai motor dari kubu kiri) menempati peringkat empat secara nasional. Berikutnya, dalam pemilu lokal tahun 1962, PKI berhasil memenangkan mayoritas suara di daerah Jawa, kecuali di Jawa Barat dan DKI Jakarta, Bali, Sulawesi Selatan, dan Sumateri Barat.
Semangat dari pendidikan gerakan saat itu sesuai dengan garis politik setiap kubu gerakan yang didominasi oleh kubu kiri yang terdiri dari PKI dan Nasionalis/Soekarnois Kiri.
Kembali ketika setelah Indonesia merdeka. Dalam pendidikan dikenal beberapa masa pemberlakuan kurikulum yaitu kurikulum sederhana (1947-1964), pembaharuan kurikulum (1968 dan 1975), kurikulum berbasis keterampilan proses (1984 dan 1994), dan kurikulum berbasis kompetensi (2004 dan 2006).
A.    Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950.  Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas 1. Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dab cara murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakap-cakap, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari, bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana (pompa, timbangan, manfaat bes berani), dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik.
Pada perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran”. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.
B.     Kurikulum 1964
Pada akhir era kekuasaan Soekarno, kurikulum pendidikan yang lalu diubah menjadi Rencana Pendidikan 1964. Isu yang berkembang pada rencana pendidikan 1964 adalah konsep pembelajaran yang bersifat aktif, kreatif, dan produktif. Konsep pembelajaran ini mewajibkan sekolah membimbing anak agar mampu memikirkan sendiri pemecahan persoalan (problem solving). Rencana Pendidikan 1964 melahirkan Kurikulum 1964 yang menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana. Disebut Pancawardhana karena lima kelompok bidang studi, yaitu kelompok perkembangan moral, kecerdasan, emosional/artisitk, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah.
Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Cara belajar dijalankan dengan metode disebut gotong royong terpimpin. Selain itu pemerintah menerapkan hari sabtu sebagai hari krida. Maksudnya, pada hari Sabtu, siswa diberi kebebasan berlatih kegitan di bidang kebudayaan, kesenian, olah raga, dan permainan, sesuai minat siswa. Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk manusia pacasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS No II tanun 1960. Penyelenggaraan pendidikan dengan kurikulum 1964 mengubah penilaian di rapor bagi kelas I dan II yang asalnya berupa skor 10 – 100 menjadi huruf A, B, C, dan D. Sedangkan bagi kelas II hingga VI tetap menggunakan skor 10 – 100.
Kurikulum 1964 bersifat separate subject curriculum, yang memisahkan mata pelajaran berdasarkan lima kelompok bidang studi (Pancawardhana).

KESIMPULAN
1. Bahwa pendidikan menjadi media bagi pergerakan untuk mentransformasikan kesadaran politik. Hal ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap konsep pendidikan yang diberikan oleh penguasa pada periode tertentu yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
2. Oleh karena itu, pendidikan dalam pergerakan rakyat perlu dilandasi pada kondisi obyektif yang melatarinya.
3. Bahwa perkembangan pendidikan dalam pergerakan adalah sesuatu yang dialektis, atau saling mempengaruhi. Pasang-surut gerakan berpengaruh terhadap efektivitas penyebaran ide pembebasan rakyat. Demikian juga pendidikan politik yang disampaikan secara meluas kepada rakyat berpengaruh terhadap perubahan-perubahan sosial dan politik.
4. Bahwa dalam situasi politik tertentu, massa rakyat memperoleh bekal pendidikan dari dinamika obyektif yang terjadi. Dalam situasi semacam ini, efektivitas pendidikan politik dapat lebih terasa out put-nya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Penyebabnya, dalam situasi politik yang dinamis, kesadaran massa cenderung meningkat, sebagai respon terhadap tuntutan-tuntutan politik dari lingkungan obyektifnya. 

Teori Sosial

0 komentar
PARADIGMA DALAM DEFINISI SOSIAL
Konsep paradigma digunakan untuk menggambarkan gambaran-gambaran dasar serta asumsi. Paradigma definisi sosial menekankan hakikat kenyataan sosial yang bersifat subyektif lebih dari pada eksistensinya yang terlepas dari individu[1].
Paradigma kategori sosial terdiri dari tiga teori, yaitu teori aksi (action theory), teori interaksi simbolis (symbolic interactionism), dan teori fenomenologi (phenomenology).

  1. Teori aksi (action theory)
Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa tindakan manusia muncul dari kesadarannya dan dari situasi lingkungan yang mengitarinya. Kemampuan individu untuk melakukan yang tersedia dalam arti menetapkan cara/alat dari sejumlah alternative yang tersedia dalam rangka mencapai tujuannya yang oleh Parson disebut Voluntarism[2].

Contoh dari teori ini yaitu :
Beberapa hari lagi masyarakat akan menghadapi pemilu 2009. untuk mencapai tujuannya banyak parpol yang menggunakan berbagai cara untuk menarik simpati masyarakat. Begitu juga dengan para pemimpin parpol yang ingin menang dalam pemilu. Mereka menggunakan berbagai cara untuk dapat menarik simpati masyarakat sehingga akan memperoleh suara terbanyak dan dapat memenangkan pemilu. Cara-cara yang dilakukan untuk menarik simpati masyarakat tersebut dapat digolongkan sebagai teori aksi. Karena dalam teori aksi, setiap individu dituntut untuk dapat menggunakan berbagai alternativ maupun cara untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

  1. Teori interaksi simbolis (symbolic interactionism)[3].
Teori ini menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk menciptakan symbol-simbol dan mempergunakannya. Manusia menggunakan simbol-simbol tersebut untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Bahasa dipahami sebagai suatu simbol yang dapat dimengerti oleh semua orang. Kata-kata digunakan untuk memaknai berbagai hal[4].

Contoh dari teori interaksi simbolis:
Dijalan raya terdapat berbagai macam kendaraan. Pada waktu itu, ada seorang pengendara sepeda motor yang hendak belok kearah kanan. Kemudian pengandara tersebut melambaikan tangan kanannya sebagai tanda atau simbol bahwa ia hendak belok ke kanan. Dalam hal ini lambaian tangan tersebut dapat disebut simbol, karena orang lain yang mengetahui hal tersebut pasti tahu dan sepakat mengenai simbol lambaian tangan tersebut. Antara pengendara yang satu dengan yang lain akan saling memahami karena mereka sudah sepakat dan mengerti akan simbol lambaian tangan tersebut. Secara tidak langsung dan dalam waktu yang bersamaan, antar pengguna jalan raya sudah saling berkomunikasi melalui simbol yang telah disepakati bersama.

  1. Teori fenomenologi (phenomenology)
Teori ini menitikberatkan pada arti dan makna dari suatu perbuatan atau tindakan dari manusia. Eddmund Hassel dikenal sebagai pencetus filsafat fenomenologi[5].

Contoh dari teori fenomenologi yaitu sebagai berikut :
Misalnya orang yang sedang berpuasa memiliki makna bahwa kita dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan YME, melatih kesabaran, dan dapat ikut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak mampu untuk membeli makanan. Teori fenomenologi lebih mengarah pada makna atau arti dari suatu perbuatan individu.



[1] Doyle Paul Johnson. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta : Gramedia. Hal.55.
[2] www.dianprima.com/teori-sosiologi.jsp
[3]Dr.Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.
[4] Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2008. Teori Sosiologi. Yogyakarta : Kreasi Wacana Yogyakarta. Hal : 395.