Rabu, 04 Mei 2011

Teori Sosial

PARADIGMA DALAM DEFINISI SOSIAL
Konsep paradigma digunakan untuk menggambarkan gambaran-gambaran dasar serta asumsi. Paradigma definisi sosial menekankan hakikat kenyataan sosial yang bersifat subyektif lebih dari pada eksistensinya yang terlepas dari individu[1].
Paradigma kategori sosial terdiri dari tiga teori, yaitu teori aksi (action theory), teori interaksi simbolis (symbolic interactionism), dan teori fenomenologi (phenomenology).

  1. Teori aksi (action theory)
Asumsi dasar dari teori ini adalah bahwa tindakan manusia muncul dari kesadarannya dan dari situasi lingkungan yang mengitarinya. Kemampuan individu untuk melakukan yang tersedia dalam arti menetapkan cara/alat dari sejumlah alternative yang tersedia dalam rangka mencapai tujuannya yang oleh Parson disebut Voluntarism[2].

Contoh dari teori ini yaitu :
Beberapa hari lagi masyarakat akan menghadapi pemilu 2009. untuk mencapai tujuannya banyak parpol yang menggunakan berbagai cara untuk menarik simpati masyarakat. Begitu juga dengan para pemimpin parpol yang ingin menang dalam pemilu. Mereka menggunakan berbagai cara untuk dapat menarik simpati masyarakat sehingga akan memperoleh suara terbanyak dan dapat memenangkan pemilu. Cara-cara yang dilakukan untuk menarik simpati masyarakat tersebut dapat digolongkan sebagai teori aksi. Karena dalam teori aksi, setiap individu dituntut untuk dapat menggunakan berbagai alternativ maupun cara untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.

  1. Teori interaksi simbolis (symbolic interactionism)[3].
Teori ini menitikberatkan pada kemampuan manusia untuk menciptakan symbol-simbol dan mempergunakannya. Manusia menggunakan simbol-simbol tersebut untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Bahasa dipahami sebagai suatu simbol yang dapat dimengerti oleh semua orang. Kata-kata digunakan untuk memaknai berbagai hal[4].

Contoh dari teori interaksi simbolis:
Dijalan raya terdapat berbagai macam kendaraan. Pada waktu itu, ada seorang pengendara sepeda motor yang hendak belok kearah kanan. Kemudian pengandara tersebut melambaikan tangan kanannya sebagai tanda atau simbol bahwa ia hendak belok ke kanan. Dalam hal ini lambaian tangan tersebut dapat disebut simbol, karena orang lain yang mengetahui hal tersebut pasti tahu dan sepakat mengenai simbol lambaian tangan tersebut. Antara pengendara yang satu dengan yang lain akan saling memahami karena mereka sudah sepakat dan mengerti akan simbol lambaian tangan tersebut. Secara tidak langsung dan dalam waktu yang bersamaan, antar pengguna jalan raya sudah saling berkomunikasi melalui simbol yang telah disepakati bersama.

  1. Teori fenomenologi (phenomenology)
Teori ini menitikberatkan pada arti dan makna dari suatu perbuatan atau tindakan dari manusia. Eddmund Hassel dikenal sebagai pencetus filsafat fenomenologi[5].

Contoh dari teori fenomenologi yaitu sebagai berikut :
Misalnya orang yang sedang berpuasa memiliki makna bahwa kita dapat lebih mendekatkan diri pada Tuhan YME, melatih kesabaran, dan dapat ikut merasakan penderitaan orang-orang yang tidak mampu untuk membeli makanan. Teori fenomenologi lebih mengarah pada makna atau arti dari suatu perbuatan individu.



[1] Doyle Paul Johnson. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta : Gramedia. Hal.55.
[2] www.dianprima.com/teori-sosiologi.jsp
[3]Dr.Zamroni. 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.
[4] Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. 2008. Teori Sosiologi. Yogyakarta : Kreasi Wacana Yogyakarta. Hal : 395.

0 komentar:

Poskan Komentar